Sejarah Letusan Gunung Bromo

Pesona alam Gunung Bromo cukup eksotik dan mempesona. Gunung yang menyedot wisatawan asing ataupun domestik saat ini berstatus siaga atau level III mulai sejak 4 Desember 2015. Semburan abu dimuntahkan dari perut Bromo.

sejarah letusan gunung Bromo

Kesibukan wisata di sekitaran sewa jeep bromo murah yang masuk dalam lokasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kontan berhenti berdenyut. Jumlah wisatawan anjlok. Tidak lagi tampak keramaian wisatawan yang menyusuri lautan pasir seluas sekitaran 10 km. persegi itu. harga sewa jeep di bromo murah Gunung yang mempunyai ketinggian 2. 329 mtr. diatas permukaan laut serta ada dalam empat lokasi kabupaten, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, serta Kabupaten Malang saat ini dinyatakan tertutup untuk dikunjungi wisatawan. Radius aman juga diputuskan, yaitu 2, 5 Km. dari kawah aktif.

sejarah letusan gunung bromo

Selesai data wikipedia, Gunung Bromo memiliki satu kawah dengan garis tengah ± 800 mtr. (utara-selatan) serta ± 600 mtr. (timur-barat) . Sedang daerah bahayanya berbentuk lingkaran dengan jari-jari 4 Km dari pusat kawah Bromo.
Tidak lagi, terdengar nada knalpot kendaraan hardtop yang hilir mudik mengangkut wisatawan dari Tosari Pasuruan ataupun Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo. Ringkikan kuda juga senyap. Yang tampak saat ini cuma semburan asap pekat yang berbaur dengan abu vulkanis.

Sejarah letusan Bromo seperti dilansir wikipedia terjadi: 2011, 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775.

Sepanjang era 20 serta era 21, Gunung Bromo sudah meletus sejumlah sekian kali, dengan interval saat yang teratur, yakni 30 th.. Letusan paling besar berlangsung 1974. letusan Gunung Bromo paling akhir berlangsung pada 26 Desember 2010 sampai awal th. 2011. Bahkan juga pada th. 2004, letusan Bromo menewaskan dua wisatawan.
Tetapi, meletusnya Gunung Bromo ini tak jadi momok yang menakutkan untuk warga Tengger. Warga di sekitaran Bromo telah punya kebiasaan dengan ‘batuknya’ gunung yang disucikan itu.

” Warga disini umum saja kok, tidak ada yang mengungsi bila Bromo meletus. Th. 2010 serta 2011, termasuk juga pada th. 2004 juga tak mengungsi, ” kata Karjanus, pedagang makanan asal Ngadirejo, Sukapura, waktu didapati detikcom di lapaknya

Tetapi, pedagang yang jualan di depan Lava View Hotel ini mengakui warga yang tinggal di sekitaran Bromo tetaplah mematuhi ketentuan yang diputuskan pemerintah bila keadaan Bromo alami penambahan kesibukan vulkanik.

” Seperti saat ini ada larangan turun ke lautan pasir, ya warga kan nurut walau kita kesulitan bila ingin mencari rumput buat makanan kuda, ” katanya. Warga yang tinggal di Desa Ngadisari serta Ngadirejo banyak yang mempunyai kuda hingga sehari-hari mesti mencari rumput untuk makanannya.

Menurut dia letusan awal th. 2011 lantas, bikin banyak tempat tinggal masyarakat di Ngadirejo rusak kronis. Bangunan balai desa ataupun gedung sekolah ambruk lantaran tidak dapat menahan beban abu akita semburan dari perut Bromo. Tidak sedikit tempat tinggal warga yang rusak.

” Namun warga tak mengungsi kan waktu itu. Muntahan batu cuma jatuh di lautan pasir, cuma abu yang terbawa angin kemana saja, ” tuturnya. Ia menyatakan bila warga Tengger telah memiliki pengalaman hadapi letusan Bromo.
Gunung Bromo, untuk warga Tengger diakui sebagai gunung suci. Satu tahun sekali orang-orang Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara kebiasaan ini bahkan juga seakan jadi kalender wisata internasional.

Tiap-tiap Kasada di gelar, jadi beberapa ribu wisatawan asing ataupun domestik bakal berduyun-duyun untuk melihat upacara kebiasaan yang di gelar di Pura Agung Poten Mulia serta dilanjutkan ke puncak kawah dengan buang sesaji hasil bumi oleh warga Tengger yang sebagian besar beragama Hindu itu.

Iklan